Kamis, 29 Januari 2015

Difusi dan Desiminasi Inovasi

         BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Nicocolo Machiavelli berkata: “Tiada pekerjaan yang lebih susah merencanakannya, lebih meragukan keberhasilannya, lebih berbahaya dalm mengelolanya, daripada menciptakan suatu pembaharuan. apabila lawan telah merencanakan untuk menyerang inovator dengan mengarahkan kemarahan pasukannya sedangkan yang lain hanya bertahan dengan kemalasan, maka inovator beserta kelompoknya seperti dalam keadaan terancam. (The Prince (1513) dikutip Rogers, 1983).
Pernyataan Machiavelli tesebut menunjuk kan betapa berat tugas inovasi dan betapa sukarnya menyebarkan inovasi. Banyak orang mengetahui dan memahami sesuatu yang baru tetapi belum mau menerima apa lagi melaksanakannya. Bahkan banyak pula yang menyadari bahwa suatu yang baru itu bermanfaat baginya, tetapi belum juga mau menerima dan menggunakan atau menerapkannya. Contohnya untuk mengefektifkan proses belajar mengajar para guru diminta membuat persiapan mengajar dengan menggunakan model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tapi teryata juga belum semua guru yang telah tau dan dapat membuat persiapan mengajar dengan cara baru itu mau menggunakannya dalam kegiatan mengajar sehari-hari.

B.     Rumusan Masalah      
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan di bahas yaitu:
1.      Apakah pengertian difusi dan diseminasi inovasi?
2.      Apakah pengertian-pengertian proses keputusa inovasi?
3.      Apakah pengertian proses inovasi pendidikan?





C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari  penulisan ini yaitu:
1.      Mengetahui pengertian difusi dan diseminasi inovasi.
2.      Mengetahui pengertian-pengertian proses keputusan inovasi.
3.      Mengetahui pengertian proses inovasi pendidikan.

D.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini dengan kajian pustaka. Yakni dengan mengkaji buku-buku atau reverensi yang relevan sesuai dengan topik-topik yang dibahas.
























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Difusi dan Desiminasi Inovasi
1.      Pengertian Difusi dan Desiminasi Inovasi

Difusi ialah proses komunikasi inovasi antara warga masyarakat (anggota sistem sosial), dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. Jadi Difusi dapat merupakan salah  satu tipe komunikasi yakni komunikasi yang mempunyai ciri poko, pesan yang dikomunikasikan adalah hal yang baru (inovasi). Diseminasi adalah peroses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola.

2.      Elemen Difusi Inovasi
Rogers mengemukakan ada 3 elemen pokok difusi inovasi, yaitu: (1) inovasi, (2) komunikasi dengan saliran tertentu dan (3) waktu.
a.       Inovasi
Inovasi ialah suatu ide, barang, kejadian, metode, yang diamati sebagai suatu yang baru bagi seseorang atu kelompok orang, baik berupa hasil invensi atau diskoveri yang diadakan untuk mencapai tujuan tertentu.
b.      Komunikasi dengan saluran tertentu
Komunikasi dalam difusi inovasi diartiakn sebagai proses pertukaran informasi antara anggota sistem sosial, sehingga terjadi saling pengertian antara satu dengan yang lain. Kegiatan komunikasi dalam proses difusi mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) suatu inovasi, (2) individu atau kelompok yang telah mengetahui dan berpengalaman dengan  inovasi,(3) individu atau kelompok yang lain yang belum mengenal inovasi. (4) saluran komunikasi yang menggabungkan antara kedua pihak tersebut.
Komunikasi akan lebih efektif jika dua orang yang berkomunikasi itu memiliki kesamaan seperti: asal daerah, bahasa, kepercayaan, tingkat pendidikan, dan sebagainya.
c.       Waktu
Waktu adalah elemen yang penting dalam proses difusi, karena waktu merupakan aspek utama dalam proses komunikasi.
Peranan dimensi waktu dalam proses difusi terdapat pada tiga hal sebagai berikut: (1) proses keputusan inovasi, (2) kepekaan seseorang terhadap inovasi, dan (3) kecepatan menerima inovasi.        
1.      Proses keputusan inovasi ialah proses sejak seseorang mengetahui inovasi pertamakali sampai ia memutuskan untuk menerima atau menolak inovasi.
2.      Kepekaan seseorang terhadap inovasi. Tidak semua orang dalam suatu sistem sosial menerima inovasi dalam waktu yang sama. Mereka menerima inovasi dari urutan waktu, artinya ada yang dahulu ada yang kemudian.
3.      Kecepatan masyarakat. Kecepatan inovasi ialah kecepatan relatif diterimanya inovasi oleh warga masyarakat. Kecepatan inovasi biasanya di ukur berdasarkan lamanya waktu yang diperlukan untuk mencapai presentase tertentu dari jumblah waktu masyarakat yang telah menerima inovasi. Oleh karena itu pengukuran inovasi cendrung diukur dengan berdasarkan tinjauan penerimaan inovasi oleh keseluruhan warga masyarakat bukan penerima inovasi secara individual.
B.     Proses Keputusan Inovasi
1.      Pengertian Proses Keputusan Inovasi
Proses keputusan inovasi ialah proses yang melalui (dialami) individu (unit pengambilan keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu dadanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi  inovasi, dan konfermasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovasi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu yang tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru itu sebagai bahan pertimbangan untukselanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya.
2.      Model Proses Keputusan Inovasi
Menurut rogers, proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu:
a.       tahap pengetahuan
b.      tahap bujukan
c.       tahap keputusan
d.      tahap implementasi dan
e.       tahap kompirmasi.
1.      Tahap Pengetahuan (Knowledge)
Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan yaitu tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagai mana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi. Seseorang menyadari atau membuka diri terhadap suatu inovasi tentu dilakukan secara sktif dan fasip.
2.      Tahap Bujukan (persuation)
Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seseorang membentuk sikap atau menyenangi terhadap inovasi. Dalam tahap persuasi ini lebih banyak keaktifan mental yang memegang peran. Seseorang akan berusaha mengetahui lebih banyak tentang inovasi dan menafsirkan informasi yang diterimanya.pada tahap ini berlangsung seleksi informasi disesuaikan dengan kondisi dan sifat pribadinya. Di sinilah peranan karakteristik inovasi dalam mempengaruhi proses keputusan inovasi. Dalam tahap persuasi ini juga sangat penting peran kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa datang.
3.      Tahap keputusan (decision)
Tahap keputusan dari proses inovasi, berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menetapkan menerima atu menolak inovasi. Sering terjadi seseorang akan  menerima inovasi setelah ia mencoba lebih dahulu. Bahkan jika mungkin mencoba sebagai kecil dahulu baru kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika sudah terbukti berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Perlu diperhatiakn bahwa dalam kenyataannya pada setiap tahap dalam proses keputusan inovasi dapat terjadi penolakan inovasi. Misalnya penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat juga terjadi pada tahap persuasi. Mungkin juga terjadi setelah komfirmasi, dan sebagainya. Ada dua penolakan inovasi yaitu:
a.       Penolakan aktif artinya: penolakan inovasi setelah melalui proses mempertimbangkan untuk menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dulu, tetapi keputusan akhir menolak inovasi, dan
b.      Penolakan pasif artinya: penolakan inovasi dengan tampa pertimbangan sama sekali.
   
4.      Tahap Implementasi (implementasion)
Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapkan inovasi. Keputusan penerima gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktek. Pada umumnya implimentasi tentu mengikuti hasil keputusan inovasi. Tetapi dapat juga terjadi karena sesuatu hal memutuskan menerima inovasi tidak diikuti implementasi.
5.      Tahap konfirmasi (confirmation)
Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya, dan ia dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi yang berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas. Terjadi nya perubahan tingkah laku seseorang antara lain disebabkan karena terjadinya ketidakseimbangan internal.
3.      Tipe Keputusan Inovasi
Inovasi dapat diterima atau ditolak seseorang (individu) sebagai anggota sistem sosial, atau oleh keseluruhan anggota sistem sosial, yang menentukan untuk menerima inovasi berdasarkan keputusan bersama atau berdasarkan paksaan (kekuasaan). Dengan dasar kenyataan tersebut maka dapat dibedakan adanya beberapa tipe keputusan inovasi.
a.       Keputusan inovasi opsional, yaitu pemilihan menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang ditentukan oleh individu (seseorang) secara mandiri tanpa tergantung atau terpengaruh dorongan anggota sistem sosial yang lain.
b.      Keputusan inovasi kolektif ialah pemilih untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan antara anggota sistem sosial.
c.       Keputusan inovasi otoritas, ialah pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat oleh seseorang atau kelompok orang yang mempunyai kedudukan, status,wewenang, atau kemampuan yang lebih tinggi daripada anggota yang lain dalam suatu sistem sosial.
Kegiatan tipe keputusan inovasi tersebutmerupakan rintangan (continuum) dari keputusan opsional (individu dengan penuh tanggungj awab secara mandiri mengambil keputusan), dilanjutkan dengan keputusan kolektif(individu memperoleh sebagai wewenang untuk mengambil keputusan), dan yang terakhir keputusan otoritas (individu sama sekali tidak mempunyai hak untuk ikut mengambil keputusan.
d.      Keputusan inovasi kotingensi (contingent) yaitu pemilihan menerima atau menolak suatu inovasi, baru dapat dilakukan hanya setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Misalnya disebuah perguruan tinggi seorang dosen tidak mungkin untuk memutuskan secara opsional untuk memakai komputer sebelum didahului keputusan oleh pipinan fakultasnya untuk melengkapi peralatan fakultas dengan komputer.

C.    Proses Inovasi Pendidikan     
1.      Pengertian Proses Inovasi Pendidikan
Prosas inovasi pendidikan adalah serangkai aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan.
2.      Beberapa Model Proses Inovasi Pendidikan
Dalam mempelajari proses inovasi para ahli mencoba mengidentifikasi kegiatan apasaja yang dilakukan individu selama proses itu berlangsung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi, maka hasilnya diketemukan pentahapan proses inovasi sebagai berikut:
Beberapa Model proses Inovasi yang berorientasi pada individual, antara lain:
a.       Lavidge & Steiner (1991)
b.      Colley (1961)
c.       Rogers (1962)
d.      Robertson (1971)
e.       Rogers & Shoemakers (1971)
f.       Zaltman & Brooker (1971)
Beberapa Model Proses Inovasi yang Berorientasi pada Organisasi antara lain:
a.       Milo (1971)
b.      Shepard (1967)
c.       Hage & Aiken (1970)
d.      Wilson (1966)
e.       Rogers (1983)
f.       Zaltman, Duncan & Holbek (1973)
Zaltman dan kawan-kawan membagi proses inovasi dalam organisasi menjadi dua tahap yaitu tahap permulaan (initiation stage) dan tahap implementasi (implementasion stage). Tiap tahap dibagi menjadi beberapa langkah (sub stage).
a.       Tahap permulaan (initiation stage)
1)      Langkah pengetahuan dan kesadaran
2)      Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi
3)      Langkah pengambilan keputusan
b.      Tahap Implementasi (implementasion stage)
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan oleh para anggota organisasi ialah menggunakan inovasi atau menerapkan inovasi. Ada dua langkah yang dilakukan yaitu:
1)      Langkah awal (permulaan) implementasi
2)      Langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi
 
3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi proses inovasi pendidikan
Lembaga pendidikan formal seperti sekolah adalah suatu sub sistem dari sistem sosial. Motivasi yang mendorong perlunya diadakan inovasi pendidikan jika dilacak biasanya bersumber pada dua hal:
a.       Kemauan sekolah (lembaga pendidikan) untuk mengadakan respon terhadap tantangan kebutuhan masyarakat, dan
b.      Adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan sistim sosial terjadi hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Tenaga pendidikan akan merasa tidak puas jika bekerja tidak menggunakan kemapuan inteleknya, sehingga perlu adanya penyesuayan dengan lapangan pekerjaan. Dengan demikian akan selalu terjadi perubahan yang bersifat dinamis, yang disebabkan adanya hubungan interaktif antara lembaga pendidikan dan masyarakat.
a.       Faktor kegiatan belajar mengajar
Yang menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar ialah kemampuan guru sebagai tenaga profesional. Guru sebagai tenaga yang telah dipandang memiliki keahlian tertentu dalm bidang pendidikan, diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan tertentu, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional yang telah dirumuskan.
Sebagai alasan mengapa orang memandang tugas guru dal mengajar mengandung banyak kelemahan tersebut, antara lain dikemukakan antara bahwa:
1)      Keberhasilan tugas guru dalm mengelola kegiaatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh hubungan interversonal antar guru dengan siswa. Dengan demikian maka keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut, juga sangat ditentukan oleh pribadi guru dan siswa.
2)      Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakn kegiatan yang terisolasi. Pada waktu guru mengajar dia tidak mendapakan belikan dari teman sejawatnya.
3)      Berkaitan dengan kenyataan diatas tersebut, maka angat  minimal bantuan sejawat untuk memberikan bantuan sarana untuk kritik guna meningkatkan kemampuan profesionalnya.
4)      Belum ada kriteria yang baku tentang bagaimana pengelola kegiatan belajar mengajar yang efektif.
5)      Dalm melaksanakan tugas mengelola kegiatan belajar mengajar, guru menghadapi sejumblah siswa yang bebbeda satu dengan yang lain baik mengenai kondisi fisik, mental intlektual, sipat,minat, dan latar belakang sosial ekonominya.
6)      Berdasarkan data adanya perbedaan individual siswa, tentunya lebih tepat jika pengelolaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan cara yang sangat fleksibel, tetapi kenyataannya justru guru dituntut untuk mencapai perubahan tingkah laku yang sama sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan.
7)      Guru juga menghadapi tantangan dalam usaha untuk meningkatkan kemanpuan profesionalnya, yaitu tampa adanya keseimbangan antara kemampuan dan wewenangnya mengatur beban tugas yang harus dilakukan, serta tampa bantuan dari lembaga dan tanpa adanya i8nsentif yang menunjang kegiatannya.
b.       Faktor Internal dan Eksternal
Faktor internal yang mempengaruhi pelaksanaan pendidikan dan dengan sendirinya juga inovasi pendidikan adalah siswa.
Faktor ekternal yang mempunyai pengaruh dalam peroses inovasi pendidikan adalah orang tua.
c.       Sistem Pendidikan (Pengelolaan dan Pengawasan)
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah diatur dengan aturan yang dibuat pemerintah.
Dalm kaitan dengan adanya berbagai macam aturan dan pemerinyah tersebut maka timbull pemersalaha sejauh mana batas kewenangan guru untuk mengambil kebijakan dalam melakukan tugasnya dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi dan situasi setempat.
Demikian pula kesempatan yang diberikan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. Dampak dari keterbatasan kewenangan mengambil kebijakan dalam melaksanakan tugas bagi buru, timbulnya siklus otoritas yang negatif bagi guru yang dikemukakan oleh florio (1973) yang dikutip oleh zaltman (1977) adalah guru memiliki keterbatasan kewenangan dan kemampuan profesional, menyebabkan tidak mampu untuk mengambil kebijakan dalam melaksanakan tugasnya untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman.
Rasa ketidakmampuan menimbulkan frustasi dan bersikap apatis terhadap tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dampak dari sikap apatis, kurang semangat berpartisipasi dan rasa kurang bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas.      
  

























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada hakikatnya yang menjadi sasaran  menerima dan menerapkan inovasi adalah individu atau pribadi sebagai anggota sistem sosial (warga masyarakat). Dengan memahami proses difusi pendidikan, karena pada dasarnya pelaksana pendidikan beserta komponen-komponen adalah suatu organisasi.
Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) individu (unit pengambil keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implimentasi inovasi, dan komfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya.
Pada hakekatnya yang menjadi sasaran yang menerima dan menerapkan inovasi adaalah individu atau pribadi sebagai anggota sistem sosial (warga masyarakat) . maka demikian pemahaman tentang proses inovasi pendidikan yang berorentasi pada individu tetap merupakan dasaar untuk memahami proses inovasi dalam organisasi.
B.     Saran
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan kepada kita terutama para calon guru. Diharapkan pada teman-teman para calon guru untuk memberikan kritik maupu saran yang sifatnya membangun guna perbaikan makalah kami kedepannya.









Daftar Pustaka
Djam’an Satori, Udin Syefudin Sa’ud. 2007. Modul Inovasi Pendidikan Dasar.
Bandung: Program Magister Pendidikan Dasar SPS. UPI.Bandung.
            Roger M & Shoemaker F. Floyd. (1971). Communication of innovation.
Nem
York: The Free Press A Division of Macmillan Publishing Co.Inc.
            Everett M. Rogers.(1983). Diffusion of  Innovation. New York:The Free Press.
A
Division of Macmillan Publishing Co. Inc
            Gerald Zaltman, Philip Kolter, Ira Kaufman, (1977). Creating Social
 Change.
Holt Rinehart and Winston, Inc New York, Chicago, San Francisco,
 Atlanta, Dallas, Toronto.
Gerald Zaltman and Robert Duncan (1977). Strategis for Planned
 Change.A
Wiley-Interscience Publication John Wiley and Sons, New York. London,
Sydney, Toronto.
            Gerald Zaltman, David H. Florio, Linda a Sikorski. (1977). Dynamic
Educational
Change. New York: The Free press A Division of Macmillan Publishing
Co.Inc
 


Selasa, 08 Januari 2013

KEBUDAYAAN DAERAH DI ERA GLOBALISASI



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Era globalisasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Perubahan-perubahan tersebut pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kebudayaan
Negara-bangsa apabila ingin bertahan dalam jaman globalisasi yang tak terbendung ini mau tak mau harus juga merubah tatanan sosial politik, hukum dan budayanya karena antara ekonomi dengan sosial politik, hukum dan budaya tak dapat dipisahkan. Globalisasi yang tengah terjadi bukan saja globalisasi ekonomi, tetapi Juga globalisasi nilai-nilai sosial potitik, hukum dan budaya. Perubahan yang tengah melanda negara-negara bekas komunis seperti Rusia, Yugoslavia, Polandia dan Cina, misalnya, bukanlah sekedar perubahan dari sistem ekonomi negara yang terkendali ke sistem ekonomi pasar, tetapi justru perubahan dalam sistern dan nilai-nilai sosial politik, hukum dan budaya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa  itu kebudayaan ?
2.      Mengapa kebudayaan penting bagi sebuah bangsa ?
3.      Apa itu globalisasi ?
4.      Bagaimana Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan ?
C.     Tujuan Penulisan
1.     Untuk memenuhi tugas kuliah
2.     Agar pembaca memahami pentingnya kebudayaan.
3.     Agar pembaca dapat menjaga kebudayaan dari pengaruh globalisasi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan Berasal Dari Kata Sansekerta “BUDDHAYAH “ , yang merupakan bentuk jamak dari kata “BUDDHI” yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budhi atau akal”
Culture, merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari kata latin “colere” yang berarti mengolah atau mengerjakan (Mengolah tanah atau bertani). Dari asal arti tersebut yaitu “colere” kemudian “culture” diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan merubah alam.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagaisuperorganic, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilainorma,ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.





B.       Pentingnya Menjaga Kebudayaan
Kekayaan kebudayaan akan banyak berkaitan dengan produk-produk kebudayaan yang berkaitan 3 wujud kebudayaan yaitu pengetahuan budaya, perilaku budaya atau praktek-praktek budaya yang masih berlaku, dan produk fisik kebudayaan yang berwujud artefak atau banguna.
Beberapa hal yang berkaitan dengan 3 wujud kebudayaan tersebut yang dapat dilihat adalah antara lain adalah produk kesenian dan sastra, tradisi, gaya hidup, sistem nilai, dan sistem kepercayaan. Keragaman budaya dalam konteks studi ini lebih banyak diartikan sebagai produk atau hasil kebudayaan yang ada pada kini. Dalam konteks masyarakat yang multikultur, keberadaan keragaman kebudayaan adalah suatu yang harus dijaga dan dihormati keberadaannya.
Keragaman budaya adalah memotong perbedaan budaya dari kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di Indonesia. Jika kita merujuk kepada konvensi UNESCO 2005 (Convention on The Protection and Promotion of The Diversity of Cultural Expressions) tentang keragaman budaya atau “cultural diversity”, cultural diversity diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya. Hal ini tidak hanya berkaitan dalam keragaman budaya yang menjadi kebudayaan latar belakangnya, namun juga variasi cara dalam penciptaan artistik, produksi, disseminasi, distribusi dan penghayatannya, apapun makna dan teknologi yang digunakannya. Atau diistilahkan oleh Unesco dalam dokumen konvensi UNESCO 2005 sebagai “Ekpresi budaya” (cultural expression). Isi dari keragaman budaya tersebut akan mengacu kepada makna simbolik, dimensi artistik, dan nilai-nilai budaya yang melatarbelakanginya.
Dalam konteks ini pengetahuan budaya akan berisi tentang simbol-simbol pengetahuan yang digunakan oleh masyarakat pemiliknya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungannya. Pengetahuan budaya biasanya akan berwujud nilai-nilai budaya suku bangsa dan nilai budaya bangsa, dimana didalamnya berisi kearifan-kearifan lokal kebudayaan lokal dan suku bangsa setempat. Kearifan lokal tersebut berupa nilai-nilai budaya lokal yang tercerminkan dalam tradisi upacara-upacara tradisional dan karya seni kelompok suku bangsa dan masyarakat adat yang ada di nusantara. Sedangkan tingkah laku budaya berkaitan dengan tingkah laku atau tindakan-tindakan yang bersumber dari nilai-nilai budaya yang ada. Bentuk tingkah laku budaya tersebut bisa dirupakan dalam bentuk tingkah laku sehari-hari, pola interaksi, kegiatan subsisten masyarakat, dan sebagainya. Atau bisa kita sebut sebagai aktivitas budaya. Dalam artefak budaya, kearifan lokal bangsa Indonesia diwujudkan dalam karya-karya seni rupa atau benda budaya (cagar budaya). Jika kita melihat penjelasan diatas maka sebenarnya kekayaan Indonesia mempunyai bentuk yang beragam. Tidak hanya beragam dari bentuknya namun juga menyangkut asalnya. Keragaman budaya adalah sesungguhnya kekayaan budaya bangsa .
C.      Pengertian Globalisasi
Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan.
Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya.
Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global. 

D.      Pengaruh Globalisasi Terhadap Kebudayaan
Seiring berjalannya waktu seni dan budaya asli daerah dari suku bangsa yang ada di Indonesia, sedikit demi sedikit  mengalami perubahan yang di karenakan derasnya arus globalisasi yang di dominasi oleh Negara barat.
Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air.













BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dampak globalisasi kenyataannya sangat berpengaruh terhadap prilaku dan budaya masyarakat Indonesia dimana fenomena pengglobalan dunia harus disikapi dengan arif dan positif thinking karena globalisasi dan modernisasi sangat diperlukan dan bermanfaat bagi kemajuan. Namun kita tidak boleh lengah dan terlena, karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa.

B.       Saran
Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi perlu kecerdasan dalam menyaring efek globalisasi. Akses kemajuan teknologi informatika dan komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai pelestari dan pengembang nilai-nilai budaya local.
       Jati diri daerah harus terus tertanam dijiwa masyarskat.